MADRASAH MAKIN SEKULER
Posted by abiisyarfaq on March 4, 2008
Hari ini adalah kuliah perdanaku dalam mata kuliah PERKEMBANGAN KONTEMPORER MADRASAH DAN PESANTREN, yang diampu oleh PROF. DR. HUSNI RAHIM dan Team Teaching yang terdiri dari DR. MUHAMAD ZUHDI, M,ED; DR. SUPARTO, M.ED. DAN DR. NURLENA, MA. Ada beberapa kata kunci yang ku catat dalam buku kuliahku yang serupa dengan kegelisahan yang menggelayut di benakku. Dari disertasi Muhamad Zuhdi tentang kurikulum didapat kesimpulan bahwa dalam perkembangannya ternyata antara sekolah dan madrasah terdapat kecenderungan yang bersebrangan. Merujuk pada masa awal kemerdekaan RI dan pendidikan nasional mulai dirumuskan, pendidikan Islam menempati posisi yang marginal bahkan diabaikan. Pendidikan Islam bukan bagian dari Sistem Pendidikan Nasional. Sementara Sekolah Umum adalah anak emas yang mendapat tempat istimewa dalam sistem pendidikan nasional. Bukan sekedar kelembagaan, pendidikan Islam dalam arti mata pelajaran pun tidak menjadi mata pelajaran wajib yang ditetapkan pemerintah. demikianlah sekolah-sekolah berjalan tanpa kewajiban mengajarkan agama. sementara itu madrasah berjalan dan mencari jalan sendiri. Ia menjadi gerakan under ground melalui pesantren-pesantren atau tokoh-tokoh masyarakat yang menaruh concern tinggi terhadap pendidikan Islam. Dapat dikatakan bahwa kurikulum sekolah pada masa awal ini sangat sekuler.
Dalam perkembangan berikutnya, dimulai pada dekade 90-an terjadi arus balik. Saat itu mulai bermunculan sekolah-sekolah unggulan yang menawarkan kurikulum plus keislaman sehingga mereka dikatakan sebagai sekolah-sekolah Islam unggulan. Di sudut lain madrasah yang semakin eksis dalam kancah pendidikan nasional mengalami perkembangan pesat. Sehingga pada akhirnya Madrasah disejajarkan dan disamakan dengan Sekolah, MTs adalah SMP berciri khas Islam, MA adalah SMA berciri khas Islam, dan seterusnya. Namun patut dicermati, jati diri madrasah semakin lebur dan kabur. Sejak saat itu sulit lagi membedakan mana MADRASAH mana SEKOLAH. Kurikulum Tsanawiyah sama dengan SMP, kurikulum ALIYAH sama dengan SMA. Kecuali dalam Pendidikan Agama Islam yang terfragmentasi menjadi LIMA MATA PELAJARAN di MADRASAH, selain itu nyaris tak ada yang berbeda. Dari segi pakaian, kerudung juga menjamur di sekolah-sekolah umum. Dari segi peri laku malah lebih sulit lagi membedakan mana pelajar Madrasah dan mana pelajar Sekolah. Madrasah benar-benar kehilangan jati dirinya. Madrasah hanya membanggakan dogma dan berlindung di bawah kebesaran nama Islam.
Dan semenjak tahun 2000 datang gejala ini semakin menguat. Sekolah-Sekolah Umum semakin mendekat ke kutub keislaman, sementara Madrasah semakin sekuler. Semakin banyak sekolah-sekolah Islam muncul dan tidak menggunakan label MADRASAH, sebaliknya semakin banyak MADRASAH-MADRASAH yang identitas keislamannya makin terkubur.
wa Allahu A’lamu bi al-Shawab












March 7, 2008 at 9:17 am
tulisan yg menarik
March 16, 2008 at 1:09 am
Itulah kenyataan puahit yang selalu membuat saya ingin menangis jika mengingatnya. Robbana Dholamna Anfusana….
June 3, 2008 at 4:55 am
salut gus
June 10, 2008 at 2:17 am
madrasah lahir untuk membendung arus sekulerisasi….tapi…derasnya arus yang memarjinalkan madrasah membuat madrasah menampilkan sosok sekulernya demi meraih opini kita ga jauh beda dengan sekolah dikbud…harapanya bisa meraih apa yang sudah diraih sekolah….sayang kondisinya berbeda…madrasah berbasis komunitas…tumbuh dari masyarakat untuk masyarakat dengan dana sedikit…sementara sekolah tumbuh dari sistem yang mengucurkan dana triliyunan….HIDUP MADRASAH..MARI KITA MAJUKAN DENGAN TETAP BERPEGANG PADA KHITOHNYA!
June 11, 2008 at 6:12 am
sebuah pilihan yang sulit
salam dari yang kerja di madrasah
http://manmalang1.sch.id
http://hmcahyo.wordpress.com